Kamu, yang tlah kukirimkan milyaran bunga terima kasih. Semerbak wanginya, kuharap bisa menghapus duka rasa bersalahmu. Tak apa. Tenang saja. Setiap detik waktu yang pernah kita lalui, bukankah proses belajar untuk tetap berdiri tegap selihai apapun ombak menari? Hanya karena sepercik salah, kau akhirnya memutuskan untuk mengajariku tentang bepergian yang lama. Tanpa menjanji bahwa kelak akan ada cara untuk pulang kembali. Kau, hanya melambaikan tangan, kemudian berlalu tanpa basa-basi. Apakah kau tahu, hal ini begitu menyesakkan? Bukankah ketika aku pergi, aku berjanji akan kembali lagi setelah dua tahun belajar banyak hal di tempat yang asing? Ini juga untukmu, bukan?
Kamu, haruskah aku juga mengirimkan sepucuk surat yang berisi kata maaf karena tlah memutuskan untuk pergi sesaat? Apakah itu yang membuatmu lupa pada selembar kertas perjanjian yang kita tulis waktu itu? Tentang hal yang tidak boleh kulakukan ketika kau jauh. Sungguh benar Allah Maha Membolakbalikkan Hati hambaNya. Jika tak kukembalikan padaNya, kau tentu saja tahu bahwa aku akan gila.
Kamu, dari sekian banyak hal yang kau ajarkan selama ini, ternyata kau lupa mengajarkan tentang satu hal yang penting untuk hubungan kita. Do you know what? Kau lupa mengajariku cara untuk melupa. Tapi sekali lagi tenanglah, karena itu adalah hal yang harus kupelajari sendiri. Tanpamu, aku benar-benar merasa sedang berada di sebuah medan perang. Tak ada musuh disana, kecuali diriku sendiri. Melawan diriku sendiri adalah caraku untuk melupa.