Senin, 16 Oktober 2017

Kita Tiada

Aku takkan menawarkan kesempatan apapun.
Karena aku bukanlah Sang Pemberi Kesempatan itu.
Dan karena kita tidak sedang hidup pada masa dimana kau dan aku adalah seorang pejuang.

Kita tlah sama-sama mati dalam perang ini.
Terbunuh oleh rasa tersakiti yang sepaket dengan rasa bersalah
Dan dengan mudahnya menjelaskan pada dunia bahwa kita sedang berjuang?

Perjuangan macam apa yang bisa dilakukan oleh mayat-mayat seperti kita?

Aku adalah seseorang yang mencoba hilang.
Dan ternyata kau bukanlah seorang pencari yang handal.

Makassar, 16 Oktober 2017
(Sehari sebelum aku hilang, dan sehari sebelum kau kehilanganku)

Rabu, 04 Oktober 2017

Kulangitkan do'a, untukmu!

Diam saja. Aku mengerti tentang hujan di wajah cantikmu. Aku mengerti betapa kebaikan hatimu menutupi inginmu yg sebenarnya. Aku juga mengerti tentang ragu yg ingin sekali kau tepis. Meski pelukku tak lagi bisa mendarat ditubuhmu, yakinlah doa akan selalu melangit untuk menjadikanmu tetap tenang.
Aku belum pernah melewati itu. Aku, tak punya pil penenang untukmu kali ini. Mintalah apapun kepadaNya. Seperti aku yg selalu memintakan kebaikan untukmu lewatNya. Shalat dan sabarlah, sayang. Keyakinan kita terkadang menjadi penghalang datangnya sesuatu yg benar2 baik menurutNya. Kekukuhan hati kita terhadap angka yg ingin kita raih, apalah artinya jika itu tanpa restuNya? Mintalah padaNya. Semakin dekatlah kau padaNya. Bujuklah DIA, yang maha pemberi keputusan terbaik. 
Dengan segenap cinta dan kasihmu, lakukanlah yg terbaik jangan menurut versimu saja. 

Polewali, 4 juli 2017 pukul 02.09

Beribu Tanya

Ini sudah sebersekiankalinya. Tenanglah. Aku (masih) baik2 saja. Menjawab terlalu banyak pertanyaan bukan hal yg terlalu sulit bagiku. 
"Kenapa bisa kiki?"
"Sejak kapan?"
"Jadi bagaimana sekarang?"
Itu hanya tiga dari seribu pertanyaan beruntun. Aku tak pernah menyiapkan jawabannya. Aku juga tak pernah menjawab dengan karangan cerita palsu untuk menutupi apapun.
Beberapa bulan sebelum kepulanganku ke rumah, aku benar-benar merasa takut dan gugup. Aku tak terlalu hebat dalam hal ini. Berlindung dibalik tubuhmu yg tinggi, aku terbiasa dengan itu. Pun dengan hal yg lain. Kau adalah tameng. Dulu. Aku selalu jatuh cinta dengan caramu yg begitu sempurna untuk membentukku. Jika kau masih disini, tentu saja kau akan mengatakan "Angkat mukanya, hadapi. Baru begitu sudah lemas. Jawab saja apa adanya."
Aku berhasil melakukannya. Melakukan sesuai instruksimu dalam khayalanku. Aku, masih melakukannya, menganggapmu ada bersama seribu hal-hal positif yg akan membuatku sampai ke tujuan.

Sengkang, 2 Juli 2017 pukul 20.25

Pernah, dulu sekali!

Kau pernah melindungiku dari banyak hal. Bahkan dari hal2 yg sangat kucintai sekalipun. Seperti hujan misalnya. Kau takut hujan akan membuatku sakit. Aku ingat, suatu hari ketika aku pergi ke kota dan kukirimkan videoku menikmati hujan romantis didepan mess. Kau marah, dan mengirimiku video lucu yg berisikan pesan bahwa aku tak boleh main hujan lagi. Kau tau, ketika kau pergi, ternyata hujanlah yg akhirnya menjadi pelipur laraku. Penenang jiwaku. Kutitipkan doa2 disetiap tetesnya. Salah satunya, doa agar kau segera pulang.

 Dan sebut saja minuman berkarbonasi. Kau takut kesehatanku akan terganggu. Pada bulan2 pertama mengenalku, kau akhirnya membuatkan sebuah aturan kecil. Hanya boleh meminum col* satu kali dalam sebulan. Boleh lebih, tapi hanya jika kau yg membelikannya. Romantis bukan? Inikah yg kau sebut bahwa kau tak pernah membahagiakanku? Lima tahun yg indah, dan kau menyuruhku untuk melupa begitu saja? Oh tidak. Lupakan saja semuanya, tanpa harus memaksaku untuk berhenti mengenang. Lupamu, semoga kelak akan menyadarkanku, bahwa lima tahun hanyalah kenangan, bukan masa depan.