Terima kasih telah sama-sama berhenti.
Berhenti saling mencari.
Aku tak takut lagi ketika malam datang dan nyatanya kau hanya sebuah bayangan.
Dan aku tak sedih lagi ketika terbangun dan nyatanya kau menjelma menjadi awan.
Kita benar-benar tlah usang.
Tak mengapa.
Langit yang cerah masih tersedia setiap paginya.
Matahari masih terbit tepat pada waktunya.
Terbenam pun tak terlambat.
Jadi apa yang perlu kita risaukan?
Malam ini hatiku pilu.
Kemarin pun sama.
Tapi tak lagi mencarimu.
Itu saja.
Tuppu, 25 November 2018 18.52 wita
Pensil Kuning
A pluviophile
Minggu, 25 November 2018
Senin, 16 Oktober 2017
Kita Tiada
Aku takkan menawarkan kesempatan apapun.
Karena aku bukanlah Sang Pemberi Kesempatan itu.
Dan karena kita tidak sedang hidup pada masa dimana kau dan aku adalah seorang pejuang.
Kita tlah sama-sama mati dalam perang ini.
Terbunuh oleh rasa tersakiti yang sepaket dengan rasa bersalah
Dan dengan mudahnya menjelaskan pada dunia bahwa kita sedang berjuang?
Perjuangan macam apa yang bisa dilakukan oleh mayat-mayat seperti kita?
Aku adalah seseorang yang mencoba hilang.
Dan ternyata kau bukanlah seorang pencari yang handal.
Makassar, 16 Oktober 2017
(Sehari sebelum aku hilang, dan sehari sebelum kau kehilanganku)
Karena aku bukanlah Sang Pemberi Kesempatan itu.
Dan karena kita tidak sedang hidup pada masa dimana kau dan aku adalah seorang pejuang.
Kita tlah sama-sama mati dalam perang ini.
Terbunuh oleh rasa tersakiti yang sepaket dengan rasa bersalah
Dan dengan mudahnya menjelaskan pada dunia bahwa kita sedang berjuang?
Perjuangan macam apa yang bisa dilakukan oleh mayat-mayat seperti kita?
Aku adalah seseorang yang mencoba hilang.
Dan ternyata kau bukanlah seorang pencari yang handal.
Makassar, 16 Oktober 2017
(Sehari sebelum aku hilang, dan sehari sebelum kau kehilanganku)
Rabu, 04 Oktober 2017
Kulangitkan do'a, untukmu!
Diam saja. Aku mengerti tentang hujan di
wajah cantikmu. Aku mengerti betapa kebaikan hatimu menutupi inginmu yg
sebenarnya. Aku juga mengerti tentang ragu yg ingin sekali kau tepis.
Meski pelukku tak lagi bisa mendarat ditubuhmu, yakinlah doa akan selalu
melangit untuk menjadikanmu tetap tenang.
Aku
belum pernah melewati itu. Aku, tak punya pil penenang untukmu kali ini.
Mintalah apapun kepadaNya. Seperti aku yg selalu memintakan kebaikan
untukmu lewatNya. Shalat dan sabarlah, sayang. Keyakinan kita terkadang
menjadi penghalang datangnya sesuatu yg benar2 baik menurutNya.
Kekukuhan hati kita terhadap angka yg ingin kita raih, apalah artinya
jika itu tanpa restuNya? Mintalah padaNya. Semakin dekatlah kau padaNya.
Bujuklah DIA, yang maha pemberi keputusan terbaik.
Dengan segenap cinta dan kasihmu, lakukanlah yg terbaik jangan menurut versimu saja.
Polewali, 4 juli 2017 pukul 02.09
Beribu Tanya
Ini sudah sebersekiankalinya. Tenanglah. Aku (masih)
baik2 saja. Menjawab terlalu banyak pertanyaan bukan hal yg terlalu
sulit bagiku.
"Kenapa bisa kiki?"
"Sejak kapan?"
"Jadi bagaimana sekarang?"
Itu
hanya tiga dari seribu pertanyaan beruntun. Aku tak pernah menyiapkan
jawabannya. Aku juga tak pernah menjawab dengan karangan cerita palsu
untuk menutupi apapun.
Beberapa bulan sebelum
kepulanganku ke rumah, aku benar-benar merasa takut dan gugup. Aku tak
terlalu hebat dalam hal ini. Berlindung dibalik tubuhmu yg tinggi, aku
terbiasa dengan itu. Pun dengan hal yg lain. Kau adalah tameng. Dulu.
Aku selalu jatuh cinta dengan caramu yg begitu sempurna untuk
membentukku. Jika kau masih disini, tentu saja kau akan mengatakan
"Angkat mukanya, hadapi. Baru begitu sudah lemas. Jawab saja apa
adanya."
Aku berhasil melakukannya. Melakukan
sesuai instruksimu dalam khayalanku. Aku, masih melakukannya,
menganggapmu ada bersama seribu hal-hal positif yg akan membuatku sampai ke
tujuan.
Sengkang, 2 Juli 2017 pukul 20.25
Pernah, dulu sekali!
Kau pernah melindungiku dari banyak hal.
Bahkan dari hal2 yg sangat kucintai sekalipun. Seperti hujan misalnya.
Kau takut hujan akan membuatku sakit. Aku ingat, suatu hari ketika aku
pergi ke kota dan kukirimkan videoku menikmati hujan romantis didepan
mess. Kau marah, dan mengirimiku video lucu yg berisikan pesan bahwa aku
tak boleh main hujan lagi. Kau tau, ketika kau pergi, ternyata hujanlah
yg akhirnya menjadi pelipur laraku. Penenang jiwaku. Kutitipkan doa2
disetiap tetesnya. Salah satunya, doa agar kau segera pulang.
Dan
sebut saja minuman berkarbonasi. Kau takut kesehatanku akan terganggu.
Pada bulan2 pertama mengenalku, kau akhirnya membuatkan sebuah aturan
kecil. Hanya boleh meminum col* satu kali dalam sebulan. Boleh lebih,
tapi hanya jika kau yg membelikannya. Romantis bukan? Inikah yg kau
sebut bahwa kau tak pernah membahagiakanku? Lima tahun yg indah, dan kau
menyuruhku untuk melupa begitu saja? Oh tidak. Lupakan saja semuanya,
tanpa harus memaksaku untuk berhenti mengenang. Lupamu, semoga kelak
akan menyadarkanku, bahwa lima tahun hanyalah kenangan, bukan masa
depan.
Selasa, 26 September 2017
Katanya, semua akan melupa pada waktunya
Kamu, yang sedari tadi hanya duduk di hadapanku. Tak bergeming. Tenang saja. Segala hal yang menjadi kesalahanmu telah kusebut sebagai kekhilafan. Sekotak maaf tlah kusodorkan sejak awal pertemuan kita hari ini. Tapi tetap saja kau begitu keras kepala. Menatap. Menunduk. Menatap lagi. Lalu menunduk lagi. Apa yang kau pikirkan? Bukankah wanita ini tetap sama dengan wanita yang kau lepas di bandara dua tahun yang lalu? Ia dengan segudang harapan, datang ke hadapanmu meski ia tahu sebenarnya kau menolak untuk itu.
Kamu, yang tlah kukirimkan milyaran bunga terima kasih. Semerbak wanginya, kuharap bisa menghapus duka rasa bersalahmu. Tak apa. Tenang saja. Setiap detik waktu yang pernah kita lalui, bukankah proses belajar untuk tetap berdiri tegap selihai apapun ombak menari? Hanya karena sepercik salah, kau akhirnya memutuskan untuk mengajariku tentang bepergian yang lama. Tanpa menjanji bahwa kelak akan ada cara untuk pulang kembali. Kau, hanya melambaikan tangan, kemudian berlalu tanpa basa-basi. Apakah kau tahu, hal ini begitu menyesakkan? Bukankah ketika aku pergi, aku berjanji akan kembali lagi setelah dua tahun belajar banyak hal di tempat yang asing? Ini juga untukmu, bukan?
Kamu, haruskah aku juga mengirimkan sepucuk surat yang berisi kata maaf karena tlah memutuskan untuk pergi sesaat? Apakah itu yang membuatmu lupa pada selembar kertas perjanjian yang kita tulis waktu itu? Tentang hal yang tidak boleh kulakukan ketika kau jauh. Sungguh benar Allah Maha Membolakbalikkan Hati hambaNya. Jika tak kukembalikan padaNya, kau tentu saja tahu bahwa aku akan gila.
Kamu, dari sekian banyak hal yang kau ajarkan selama ini, ternyata kau lupa mengajarkan tentang satu hal yang penting untuk hubungan kita. Do you know what? Kau lupa mengajariku cara untuk melupa. Tapi sekali lagi tenanglah, karena itu adalah hal yang harus kupelajari sendiri. Tanpamu, aku benar-benar merasa sedang berada di sebuah medan perang. Tak ada musuh disana, kecuali diriku sendiri. Melawan diriku sendiri adalah caraku untuk melupa.
Rabu, 12 November 2014
Penelitian lagi.. Survey lagii.. ^_^
Assalamu'alaikum guys!
Long time no see.. Haha
Kali ini saya benar-benar butuh bercerita buanyak.
Long time no see.. Haha
Kali ini saya benar-benar butuh bercerita buanyak.
Di akhir Oktober ini, setelah kelar
mengikuti ujian TKDnya Kemenkes di Mamuju sana, Tuhan kembali mempercayakan
sebuah amanah besar untuk saya dan -temanteman baru saya-.
Saya lupa tanggal jelasnya, kira2 di akhir
Oktober itulah semua berawal.
Sekitar pukul 2
dini hari, saya mendapat sms dari nomor asing yang ternyata dari mba riri,
salah satu tim PUSKA FKM UI. Saat itu saya nyaris tidak ingat apa-apa lagi soal
pendaftaran itu. Dan ternyata.. malam itu yang mendapat sms alias panggilan
untuk tes wawancara itu hampir untuk semua teman-teman yang juga dulu ngirimin
cv via email ke mba tika rianty.
Singkat cerita, jadilah kami kembali
reunian di Gedung PKP Unhas untuk ikut tes wawancara. Dan alhamdulillah,
sekitar 90% dari kami lulus.. :D
Ya, Lagi!
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Kami mulai disibukkan dengan 4 hari pelatihan yang didalamnya sudah ada role play dan uji coba di salah satu kelurahan di Kota Makassar. Hari terakhir pelatihan, kami harus dibagi atas 2 tim besar, dan saat itulah saya menggalau ria. Sangat besar keinginan untuk mencoba hal baru di berbagai tempat di pelosok Takalar, tapi dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya memutuskan untuk memilih lokasi penelitian di Makassar saja :'(
Cemen amat ga tuh?! Ga dong!
Oia, penelitian ini punya dua kuesioner
yang lumayan tebal dan intinya tentang kesehatan ibu dan anaklah pokoknya..
Haha
Untuk melahap 2 kues ini, saya harus
menghabiskan waktu sekitar 3 jam 30 menit duduk di depan ibu responden dan bisa
saya pastikan si ibu betenya minta ampun. Untung saja si pewawancaranya lucu
dan imut, setidaknya bisa meminimalisir rasa kantuklah yaa.. hahah
Tim Makassar, ternyata masih harus terbagi
atas 3 tim. Saya adalah salah satu anggota dari tim 1, yang dinahkodai oleh Kak
Ali sebagai Assisten Supervisor, dan 5 orang enumerator, saya sendiri, Riska,
Imha, Lia, dan Indha.. Dan tidak lupa pula saya perkenalkan tim antrophometer
kami, Annisa dan Ismi. Terakhir itu ada satu cowo lagi, andalan tim kami, dia
yang paling unyu-unyu dan berhati lembut, Ben! Ben adalah satu-satunya laboran
kami! yang bertugas mengecek Hb si ibu responden.
Dan hampir lupa, tim kami ga akan rame tanpa 2 orang yg juga begitu penting buat kami. Kak Adi dan Mas Arman. Driver yang selalu siap mengantar jemput kami kemana saja. Huaaaaah..
Dan hampir lupa, tim kami ga akan rame tanpa 2 orang yg juga begitu penting buat kami. Kak Adi dan Mas Arman. Driver yang selalu siap mengantar jemput kami kemana saja. Huaaaaah..
![]() |
| Rutinitas selfie sebelum turlap :D |
Alhamdulillah hari pertama berjalan lancar
walaupun di awal ada sedikit masalah, hari pertama dengan dua responden per
enum lumayanlah yaa.. Haha Dan bisa diduga saya adalah yang punya durasi paling
lama saat wawancara, menurut si Riska dan Nisa, mungkin karena saya selalu
meladeni ibu responden yang kadang curcol ga jelas.
![]() |
| Kak Ali ^_^ |
Masa karantina kami dimulai sejak hari
itu, banyak cerita di tempat yang tidak perlu kusebutkan namanya. Tempatnya
nyaman, dan ada yang unik, hampir setiap hari bu kantinnya bikin menu telur
rebus bulat ala-ala menu rumah sakit. Hiks.
Dan Azhar tau persis saya paling tidak
bisa makan telur bulat. Jadilah sekali sepekan saya diantarkan cemilan enak
sama Accah.. Terima kasih yaa, Cah.. ^^
Jadwal kami, setelah sholat subuh sudah
harus antri untuk mandi dan jam 7 semua sudah siap sarapan, dan ready to GO!
Di perjalanan ke rumah responden biasanya saya sengaja mengambil tempat paling
belakang untuk tidur berkualitas, lumayan kan 30 menit bisa meluruskan punggung?
Untuk per harinya, tiap enum harus dapat 4 responden. Di awal saya belum bisa
mencapai target berbeda dengan Bu Riska yang lincahnya minta ampun.
Sehari-harinya dia bisa dapat 4 meeeeen! Hahahah
![]() |
| Kak Ali, Mas Arman, Riska, Nisa, dan -Saya- |
Lanjut ke cerita berikutnya, entah setelah hari ke berapa, tim kami mendapat amanah yang luar biasa. Hari itu 4 orang enumerator dari tim kami harus terjun ke salah satu Kompleks X Kusta. Bapak pendamping PKH saat itu sudah menjelaskan rutenya, dan terpilihlah, Saya, Lia, Riska, dan Kak Ali yang harus turun ke lokasi itu. Bisa dibayangkan bagaimana mulesnya perut kami saat itu, pagi yang biasanya kami awali dengan canda tawa tiba-tiba sepi dan begitu tegang. Bapak pendamping sudah menjelaskan pada kami bahwa semua akan baik-baik saja. Sesuai dengan pesan dari Azhar, saya ngotot sama si bapak pendamping untuk tetap pake masker saat wawancara, tapi si bapaknya bilang tidak perlu karna itu hanya akan membuat warga disana merasa tersinggung. Setelah mendapat penjelasan panjang lebar dari si bapak, kami akhirnya yakin bahwa semua ibu responden yang akan kami interview bukanlah -penderita- atau bahkan -X penderita-.
Ada rasa iba saat memasuki gerbang
kompleks itu, sepanjang perjalanan kami mulai dipisahkan oleh amanah untuk
mendapatkan 4 orang responden sampai waktu yang sudah ditentukan. Rumah pertama
alhamdulillah aman, rumah kedua pun aman, hingga sampai ke rumah terakhir
alhamdulillah semua aman.. Sepanjang perjalanan dari rumah yang satu ke rumah
yang satunya lagi, banyak pemandangan yang membuat hati semakin bersyukur bahwa
Allah Tak pernah tidur. Ada sensasi lega luar biasa setelah itu, dan seperti
hari-hari sebelumnya, saya lagi-lagi mencapai rekor durasi terlama diantara
kami berempat.
Finally, tim kami mencapai target lebih
yaitu 206 responden untuk dua pekannya.. Alhamdulillah, terima kasih yaa
Allah.. setelah puldat kami masih disibukkan dengn crosscheck kuesioner yang
juga membutuhkan waktu lama, hingga hari terakhir, packing kuesioner dan harus
berpisah sama mba tikaa.. Huaaaaaaah.. Dan bagian inilah yang paling
menyedihkan.. Terima kasih Tim Puska UI.. Terima kasih mba tika.. Terima kasih
Tim 1.. Terima kasih Tim Makassar.. ^_^
![]() |
| Mba Tika Rianty ^_^ |
![]() |
| Salah satu anak responden. Sama-sama imut kan? Hihi |
Langganan:
Komentar (Atom)






